Aktivitas Manusia Pengaruhi Penyebaran Virus

Menurut Marm Kilpatrick, peneliti spesialis di bidang ekologi penyakit menular dari University of California, Santa Cruz, nyamuk dan burung-burung yang membawa virus West Nile di Amerika Serikat, ternyata jumlahnya sangat banyak di kawasan yang telah berubah akibat aktivitas manusia.

Dari penelitian, diketahui bahwa habitat pertanian dan kawasan urban memiliki tingkat penyebaran virus West Nile yang paling tinggi. “Virus itu punya dampak yang sangat penting bagi kesehatan manusia di Amerika Serikat, sebagian besar karena ia memanfaatkan spesies yang sangat dekat dengan manusia,” kata Kilpatrick.

Burung robin Amerika (Turdus migratorius), burung yang populasinya cukup besar di negeri itu memegang peranan penting bagi penyebaran virus West Nile di seluruh kawasan utara Amerika. Saking parahnya, peneliti menyebut burung robin sebagai ‘super spreader’ bagi virus tersebut. Sampai saat ini, jutaan burung robin, dan juga burung gagak telah mati akibat terinfeksi virus West Nile.

“Sebelumnya, populasi burung robin meningkat stabil, tampaknya ini berhubungan dengan bagaimana manusia menggunakan daratan. Burung ini sangat menyukai padang rumput dan lahan pertanian. Populasi gagak juga tumbuh lebih cepat,” kata Kilpatrick. “Kini populasi gagak anjlok dan robin juga mulai menurun. Kami perkirakan ini ada hubungannya dengan virus West Nile,” ungkapnya. (Sumber: United Press International)

Akibat Pemanasan Global, Sungai di China Terancam Kering

Sejumlah peneliti menyebutkan bahwa gletser di dataran Qinghai, China dan kawasan Tibet mencair dengan kecepatan yang lebih tinggi, akibat pemanasan global. Menurut pakar, sebuah bagian dari gletser, yang menjadi sumber air utama sungai terbesar di negeri itu yakni Sungai Kuning dan Lancang, telah mencair di kawasan seluas 2.400 kilometer persegi.

Menurut pemaparan Li Xiaonan, pakar dari Three-River Headwaters Office, Qinghai, salah satu bagian dari 80 gletser yang ada di sekitar kawasan Ameye Ma-Chhen, yang menjadi sumber air utama Sungai Kuning, sungai terpanjang kedua di China, menyusut sangat cepat.

“Saat ini kita masih bisa melihat Ameye Ma-chhen dari pesawat. Tetapi kami khawatir bahwa kit tidak akan melihat gletser ini di sana dalam 10 tahun ke depan,” kata Xiaonan.

Cheng Haining, senior engineer dari biro pemetaan dan survey di provinsi tersebut menunjukkan bahwa sekitar 5,3 persen atau sekitar 70 kilometer persegi dari gletser yang ada di hulu Sungai Yangtze, sungai terpanjang di China yang mencapai 6.300 kilometer, juga telah mencair selama 3 dekade terakhir. Ia pun mengatakan, pencairan gletser yang terjadi saat ini ada kaitannya dengan perubahan iklim.

Xin Yuanhong, senior engineer dari Qinghai Hydrography and Geology Study Center menyebutkan bahwa mencairnya gletser ini akan berpotensi menimbulkan kekurangan air dan bahkan keringnya sungai tersebut. Selain itu, akan ada bencana ekologi lain seperti pergeseran kawasan dataran basah dan terbentuknya gurun. (Sumber: Xinhua, Med India)

Elang Ini Hidup dengan Paku di Kepala

Elang Ini Hidup dengan Paku di Kepala

Kelompok penyelamat kehidupan liar menyebutkan bahwa mereka berhasil menangkap elang ekor merah (Buteo jamaicensis) yang tinggal di sebuah taman di San Francisco, Amerika Serikat. Tampaknya eleng itu telah ditembak di bagian kepalanya dengan sebuah pistol paku.

Rebecca Dmytryk, Executive Director of Wild Rescue, kelompok pecinta lingkungan yang berbasis di Monterey, California menyebutkan, burung yang masih remaja ini berhasil ditangkap menjelang terbenam matahari di San Francisco Botanical Gardens.

Belum ada informasi lebih lanjut seputar kondisi terakhir burung tersebut. Namun dari foto-foto penangkapan, burung tersebut kini sedang ditangani oleh para penyelamat. Dmytryk menyebutkan, burung yang malang itu juga segera dikirim ke Wildlife Centre di San Jose, California.

WildRescue sendiri sudah dikabari seputar adanya burung yang terluka itu sejak sekitar sepekan sebelumnya. Namun sejumlah upaya untuk menangkap burung tersebut belum berhasil.

Kini, para penyelamat yakin bahwa seseorang telah secara sengaja menembak burung itu dengan pistol paku pada awal bulan ini. Sebuah ganjaran sebesar sekitar Rp88,5 juta diberikan pada siapapun yang mampu memberikan informasi terkait siapa pelaku yang menyakiti hewan tersebut.

Program Proklim dan Pengelolaan Bangunan Ramah Lingkungan

Agenda perdana menjadi Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar Kambuaya meluncurkan program Proklim dan Pengelolaan Bangunan Ramah Lingkungan, di National Summit Perubahan Iklim 2011 di Sanur, Denpasar, Senin (24/10). Proklim adalah program yang memberikan pengakuan terhadap partisipi aktif masyarakat yang telah melaksanakan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Program ini bisa mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca hingga 26 persen.

Dalam sambutan pembukaan acara tersebut, Balthasar mengatakan program ini merupakan langkah nyata sebagai upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang dimulai dari tingkat masyarakat hingga meluas. “Kami berharap banyak terhadap keterlibatan seluruh provinsi hingga kabupaten/kota untuk memotivasi masyarakatnya.”

Ia menambahkan proklim ini sebenarnya sudah banyak dilakukan sebagian masyarakat peduli lingkungannya. Banyak masyarakat sadar dengan banyak menanam tanaman hingga menjadikan kampungnya sebagai kampung dengan warga sadar lingkungan yang hijau itu sehat.

Meski masih terbata-bata dalam menjelaskan persoalan proklim tersebut, Balthasar menjanjikan adanya intensif atau penghargaan terhadap masyarakat yang benar-benar menerapkan proklim ini. “Ya, kami pikirkan dulu karena anggarannya belum ada,” katanya cepat ketika ditodong berbagai pertanyaan oleh wartawan.

Ia menyadari banyak masyarkat mulai sadar lingkungan dan memperbaiki rumah tinggalnya dengan memperbanyak tanaman sehingga sejuk. Namun, ini perlu dorongan dan motivasi agar terus meluas ke seluruh lapisan masyarakat. “Ya, memang butuh waktu sedikitnya 10 tahun untuk bisa meluas,” ujarnya.

Dalam brosur Proklim dari Kementrian Lingkungan Hidup, dicontohkan beberapa foto mengenai kegiatan adaptasi mitigasi proklim tersebut. Yakni, antara lain, tampungan air, kontruksi antisipasi abrasi air laut, desain rumah panggung, penanaman mangrove, lubang resapan biopori, serta mikrohidro. (Ayu Sulistyowati, Robert Adhi)
Sumber: Kompas.com

Es Krim dari Herbal Temulawak Dapat Tingkatkan Kesehatan Hati

Es Krim dari Herbal Temulawak Dapat Tingkatkan Kesehatan Hati
Mahasiswa Farmasi UGM berhasil menciptakan es krim dari tanaman temulawak. Es krim yang diberi nama ‘Abilawa’ ini mampu menjaga kesehatan hati, memiliki kandungan antioksidan tinggi, dan menambah nafsu makan.

Topan Sawitra, Ina Rahmawati, Arum Setianingrum, Widi, Khairul Ikhsan inilah para mahasiswa inovator produk es krim berbahan herbal. Ide pembuatan es krim ini lahir untuk membuat produk alternatif berbahan temulawak yang selama ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional.

Pada 14 Juli 2005, pemerintah mencanangkan gerakan nasional minum temulawak untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Lantas gerakan tersebut menginspirasi mereka untuk membuat produk es krim yang lebih mudah dilirik oleh masyarakat. Tak hanya itu, produk es krim dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan dalam dunia industri.

Pembuatan es krim ini cukup sederhana. Kurang lebih 0,5 kilogram serbuk temulawak diolah dengan mencampurkan air panas. Kemudian disaring dan air saringannya ditambah dengan jeruk nipis. Setelah itu didinginkan dan diolah bersama dengan bahan es krim lain yaitu susu sapi, gula, garam, pengemulsi, serta stabilizer.

“Dalam 1 kali produksi kita mampu menghasilkan 60 cup es krim ukuran 100 ml. Kami jual di pasaran seharga Rp2.500,” tambahnya. Hingga saat ini, pemasaran es krim masih sebatas kota Yogyakarta. Mereka pun berencana menggandeng apotek untuk lebih membantu pemasarannya.

Mengapa bunglon merubah warna kulitnya?

Bunglon reptil yang populer karena kemampuannya mengubah warna kulit. Lalu apa yang menyebabkan bunglon dapat berubah warna?

Bunglon adalah salah satu jenis Chameleon. Terdapat lebih dari 100 jenis Chameleon. Ada yang hanya dapat berubah warna dari coklat ke hijau dan sebaliknya, namun banyak juga yang memiliki banyak koleksi warna menakjubkan di tubuhnya.

Pigment unik pada lapisan kulit chameleon memberi kemampuan bunglon untuk mengubah warna. Selama ini kita mengira chameleon mengubah warna karena menyesuaikan dengan lingkungan, atau menyelamatkan diri dari musuh. Mengutip penjelasan National Geographic, ternyata penyebab chameleon berubah warna adalah:

1. Sinar Matahari

Ketika chameleon coklat ingin berjemur di bawah sinar matahari, maka si chameleon akan mengubah warna kulitnya menjadi hijau untuk memaksimalkan refleksi sinar matahari yang didapat.

2. Suhu

Ketika suhu dingin, kulit chameleon akan berubah berwarna lebih gelap untuk memaksimalkan penyerapan panas.

3. Mood

Chameleon jantan yang ‘ditantang’ chameleon lain bisa berubah warna menjadi merah kekuningan. Atau ketika si chameleon ‘fall in love’, bisa juga warnanya berubah untuk menarik perhatian, misalnya ungu, biru dan kemerahan.

Bunglon merupakan sejenis reptil yang termasuk ke dalam suku (familia) Agamidae. Banyak orang yang mengartikan bahwa bunglon mengubah warna kulitnya sebagai kamuflase atau respon terhadap musuh dan bahaya. Padahal, sesungguhnya tidaklah demikian.

Bunglon memang memiliki kemampuan untuk mengubah warna kulitnya. Tetapi, bunglon tidak bisa berubah kulit ke semua warna, melainkan hanya ke warna-warna tertentu saja.

Lalu, mengapa bunglon dapat mengubah warna kulitnya? Tentu saja hal ini didukung oleh adanya fungsi dalam tubuh bunglon yang mendukung fungsi tersebut.

Bunglon Memiliki Sel-Sel Warna

Bunglon memiliki sel-sel warna di bawah permukaan kulitnya yang transparan. Di bawah lapisan ini terdapat dua lapisan sel yang mengandung pigmen berwarna merah dan kuning (juga disebut chromatophores).

Di bawahnya lagi ada lapisan sel yang merefleksikan warna biru dan putih. Lalu di bawahnya lagi ada lapisan melanin untuk warna coklat (seperti yang dimiliki manusia).