Kompos Bermutu dari Kandang Ayam Petelur

Dapat kalian bayangkan betapa tidak nyamannya ketika kita
berada di sekitar peternakan ayam petelur. Bau makanan yang
menyengat ditambah dengan bau kotorannya yang tidak sedap
dapat menimbulkan polusi udara. Hal itu tidak akan terjadi jika
para peternak mau mengolah kotoran ayam tersebut menjadi
kompos yang berkualitas.
Pada kapasitas ternak sebesar 80.000 ekor akan dihasilkan
kotoran sejumlah 3 ton kotoran basah per harinya. Kotoran ayam
yang dahulu hanya teronggok di sudut-sudut kandang, kini dapat
diolah menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan sebagai penyubur
rumput lapangan golf, tanaman palawija, menumbuhkan
zooplankton dalam tambak, pembibitan, kebun hortikultura, dan
sebagainya.
Bahan baku pembuatan kompos ini adalah kotoran ayam
petelur. Menurut Bapak Muin Fatah, pemilik perusahaan kompos
istimewa ”Mekar Asih”, kotoran ayam petelur lebih baik dari
kotoran ayam pedaging karena kotoran ayam pedaging bercampur
dengan sekam yang dipakai sebagai alas kandang, sedangkan kotoran
ayam petelur langsung bertumpuk di bawah kandang. Selain itu,
kotoran ayam petelur mengalami masa istirahat yang lebih lama
karena pembongkaran dari bawah kandang dilakukan selama enam
bulan sekali sesuai dengan masa afkir ayam petelur. Pada ayam
pedaging, masa afkirnya lebih cepat sehingga masa fermentasinya
juga lebih cepat, yaitu tiga bulan sehingga proses fermentasinya
kurang sempurna. Fermentasi yang sempurna akan menghasilkan
panas tinggi (60° – 70 °C) yang dapat mematikan benih gulma yang
mungkin terdapat di dalamnya.
Jika dibandingkan dengan kompos organik yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan, juga masih lebih unggul karena kompos dari
ayam petelur ini kandungan unsur haranya lebih sempurna dan
lebih mudah diserap oleh tumbuhan. Kandungan hara dalam
kompos ayam petelur yang telah diuji oleh Laboratorium Badan
Tenaga Atom Nasional Serpong Tangerang (No. 144/DAGST/
AIR.4/96) ini mengandung 4,06% nitrogen, 6,06% fosfor, dan 2,30%
kalium.
Dengan penggunaan kompos dari bahan organik ini,
diharapkan selain untuk mengurangi polusi udara yang dapat
menimbulkan polusi udara, juga mencegah terjadinya polusi air
yang disebabkan oleh penggunaan pupuk anorganik yang
berlebihan yang dapat mematikan berbagai jenis organisme air dan
memicu tumbuhnya tumbuhan air yang dapat mempercepat
terjadinya pendangkalan.
(Sumber: Majalah Trubus, edisi Agustus)

Bermanfaat? Komentar Yuk

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s