Pemanfaat SDA Kelautan di Indonesia belum Optimal

Meski Indonesia merupakan negara kepulauan, sumber daya hayati laut sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal jika saja optimalisasi dilakukan, bisa terlihat jika alternatif pangan di laut Indonesia sangatlah melimpah.

Sebagai contoh, perairan kawasan barat Indonesia yang memiliki rata-rata kedalaman 75 meter, didominasi sumber daya perikanan pelagis kecil. Sedangkan di kawasan timur Indonesia yang memiliki kedalaman hingga lebih dari 4.000 meter, melimpah dengan pelagis besar macam ikan tuna dan cakalang. Kekayaan sumber daya ini memiliki peran penting dalam pemenuhan protein hewani dari sektor kelautan.

Namun, alternatif pangan ini memiliki kendala di beberapa hal. Termasuk dalam pola pikir masyarakat Indonesia yang lebih memilih karbohidrat dalam padi dan umbi-umbian. Padahal pangan dari laut sangat kaya dengan sumber protein yang juga dibutuhkan oleh tubuh manusia.

Hal ini dikemukakan dalam Rapat Koordinasi Nasional The Census of Marine Life (CoML) Indonesia ‘Keanekaragaman Hayati Laut untuk Ketahanan Pangan.’ Berlangsung di Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Rakornas ini diisi pembicara kunci seperti mantan Menteri Kelautan dan Perikanan di era Presiden Megawati, Rokhmin Dahuri.

CoML merupakan riset global pendataan kehidupan laut pertama di dunia yang melibatkan ilmuwan dari seluruh dunia. Program ini sudah berlangsung selama satu dekade, mulai dari tahun 2000 hingga 2010. Mereka berupaya membedah arsip untuk mengkaji kondisi keragaman, kelimpahan komunitas, serta populai pada masa lalu, dan memotret parameter untuk masa kini.

“Dalam Census of Marine Life, kita tidak cuma mengidentifikasi dan memetakan biota laut. Tapi juga potensi apa yang dimilikinya, ” ujar Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, Iskandar Zulkarnain, Rabu (25/1).

“Persoalannya tidak berhenti dengan mengidentifikasi, tapi bagaimana bisa diperkenalkan kepada masyarakat, meyakinkan mereka bahwa ini adalah sumber pangan. Jadi, tantangannya tidak hanya secara teknis tapi juga secara budaya dan sosial.”

Ditambahkan oleh Kepala Pusat Penelitian Oceanografi LIPI Zainal Airifin jika sudah ada tiga biota laut yang dikembangkan jadi sumber pangan. Antara lain abalon (siput mata tujuh), teripang, dan rumput laut.

“Abalon sebenarnya makanan yang cukup mewah tapi kurang dimanfaatkan, tapi sudah kami kembangkan di Unit Pelayanan Teknis di Mataram (Nusa Tenggara Barat),” ujar Zainal.

Sedangkan teripang, lanjut Zainal, sudah dimanfaatkan sejak abad ke 18 tapi kurang banyak yang tahu.”Padahal negara yang tak punya banyak laut seperti Malaysia, sudah memanfaatkan teripang sebagai makanan sehat. Dan untuk rumput laut juga sudah mulai dikembangkan di Unit Pelayanan Teknis di Tual (Maluku).” kata Zainal lagi.
National Geographic

Bermanfaat? Komentar Yuk

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s